[KULIAH] ANOTASI JURNAL KURIKULUM Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan terbaru 2016
[KULIAH] ANOTASI JURNAL KURIKULUM Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan - Brikut adalah tugas yang kemarin aku dapet dari mata kuliah implementasi pengembang kurikulum, tapi itu berkesinambungan dengan anotasi yang aku share ini kok, sebenarnya itu ini adalah anotasi dari buku-buku kurikulum yang berkaitan dengan mata kuliah Sosiologi Pendidikan. Tapi dua mata kuliah itu saling berkesinambungan kok :). Semoga bisa jadi referensi dari temen-temen dan semoga bermanfaat.Anotasi Jurnal Tentang KurikulumUntuk Anotasi Buku Kurikulum bisa klik DISINI
Sariono. 2013. Kurikulum 2013: Kurikulum Generasi Emas. E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya; Volume 3.
Dalam jurnal ini, penulis membuat suatu gagasan mengenai kurikulum 2013 yang menyatakan bahwa kurikulum ini adalah kurikulum untuk menyiapkan generasi emas 2045. Penulis mengawali dengan memamparkan tentang arti kurikulum secara luas kemudian membahasa mengenai perkembangan kurikulum yang berada di Indonesia. Diawali dari pendidikan melalui keluarga yang disebut pendidikan informal, peserta didik mulai belajar banyak hal dalam hidup ini. Disebut pendidikan informal karena sifat-sifatnya yang tidak fomal tidak memiliki rancangan yang konkret dan juga tidak disadari. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di lingkungan sekolah yang disebut pendidikan formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan guru. Ia telah mempelajari ilmu, ketrampilan dan seni sebagai guru. Guru mengajar dengan tujuan yang jelas, bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis dan rinci, dengan cara dan alat-alat yang telah dipilih dan dirancang secara tepat. Disekolah guru melakukan interaksi pendidikan secara berencana dan sadar.
Kurikulum mempunyai empat fungsi yaitu fungsi pendidikan umum /common and general education, suplementasi /supplementation, eksplorasi /eksploration dan keahlian /pecializatioan. Hal ini pun yang dijabarkan dalam kurikulum 2013. Kuriukulum 2013 penekanan pada domain ketrampilan (skill) dan Karakter (afektif) secara terencana membentuk dan menyiapkan peserta didik menjadi orang yang tidak hanya mampu dalan aspek teoritis semata, lebih dari itu mereka juga mampu dalam hal ketrampilan yang dibutuhkan di kala dewasa dan karakter positif sesuai dengan norma agama, bangsa dan masyarakat. Dan jurnal ini pun membahas mengenai kurikulum 2013 mengenai beberapa hal tentang kemampuan guru dan lainnya.
Marlina, Murni Eva. 2013. Kurikulum 2013 yang Berkarakter. Unimed. JUPIIS VOLUME 5 Nomor 2, Desember 2013.
Murni Eva Marliana beranggapan bahwasanya “Perubahan kurikulum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa kurikulum yang berlaku harus dilakukan peningkatan dengan mengutamakan kebutuhan peserta didik”. Kebutuhan baru-baru ini yang harus diutamakan adalah pembentukan karakter pada anak, mengingat akhir-akhir ini banyak sekali penurunan kualitas moral para kaula muda. Maka dari itu perlu adanya kurikulum yang mampu membentuk siswa untuk memiliki karakter yang kuat. Kurikulum 2013 membentuk siswa melakukan pengamatan/observasi, bertanya dan bernalar terhadap ilmu yang diajarkan. Siswa diberi mata pelajaran berdasarkan tema yang terintegrasi agar memiliki pengetahuan untuk tentang lingkungan, kehidupan, dan memiliki pondasi pribadi tangguh dalam kehidupan sosial serta kreativitas yang lebih baik.
Penulis juga membahas mengenai pendidikan karakter dan mengusulkan agar kurikulum yang berubah ini bisa membentuk karakter yang kuat bagi para pemuda Indonesia. Kurikulum yang berkarakter bangsa adalah kurikulum yang mengembangkan nilai budaya dan karakter peserta didik untuk menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengembangkan diri sebagai individu, masyarakat, dan warganegara. Nilai karakter bangsa yang dimiliki peserta didik membentuk warganegara Indonesia yang memiliki ciri khas dibandingkan bangsa lain. Menciptakan manusia yang bermoral, berbudi pekerti luhur, menjunjung tinggi sifat nasionalisme dalam tantangan bagi dunia pendidikan.
Nasir, Muhammad. 2009. Pengembangan Kurikulum Berbasis Madeasah. Jurnal Penelitian Vol.10 No.2. Oktober 2009.
Adanya desentralisasi pendidikan yang ada di Indonesia membawa angin baru dalam pendidikan yang menggunakan Kurikulum KTSP ini. Kebijakan yang dulunya Top Down atau kebijakan langsung dari pemerintah, dan saat itu menjadi bottem Up atau diserahkan langsung pada sekolah. Dan seiring kemajuan islam yang ada di Indoensia, maka kurikulum berbasis madrasah sangat perlu untuk di tingkatkan guna membentuk pemuda Indonesia yang islami. Maka dari itu peneliti disini memaparkan bagaimana pengembangan kurikulum berbasis madrasah menjadi salah satu solusi. Penelitian ini membahas bagaimana konsep dan prosedur Pengembangan Kurikulum Berbasis Sekolah/Madrasah, keuntungan dan kekurangannya, kendala pelaksanaannya, dan alternatif pengembangan ciri khas madrasah unggulan yang diawali dengan pengantar seputar pengertian dan sejarah berdirinya madrasah serta perkembangan madrasah di Indonesia.
Konsep school based curriculum development (SBCD) ini memiliki beberapa karakteristik yang secara umum mirip dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Di antaranya adanya partisipasi guru, partisipasi keseluruhan atau sebagian staf sekolah, variasi kegiatannya mencakup seleksi, adaptasi dan kreasi baru, adanya perpindahan tanggung jawab dari pemerintah pusat meskipun bukan pemutusan tanggung jawab sama sekali, proses berkelanjutan yang melibatkan masyarakat dan orang tua bahkan siswa dan ketersediaan struktur pendukung untuk membantu guru maupun madrasah.
Alawiyah, Faridah.2013. Kesiapan Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. Vol. VI, No. 15 /I /P3DI /Agustus/2014.
Guru sebagai garda terdepan dalam implementasi kurukulum menjadi persoalan yang penting yang dibahas dalam penelitian ini. Kurikulum 2013 yang dinilai terburu-buru menjadikan implementasi kurikulum 2013 ini menjadi kontroversi tersendiri. Kurikulum 2013 mengharuskan guru berperan optimal dalam pembelajaran. Untuk menyiapkan guru ideal dalam kurikulum 2013 diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus. Pada tahun 2014 Pemerintah menargetkan untuk dapat melatih 1,3 juta guru secara bertahap dan bertingkat. Pada kenyataannya baru 283.000 guru yang sudah dilatih menjelang tahun ajaran baru 2014/2015 .
Pemerintah mengklaim penyelenggaraan kurikulum 2013 menjadi persoalan penting yang harus segera diberlakukan segera karena menyangkut persoalan masa depan bangsa ke depan. Dalam tahun kedua berjalan, pelaksanaan kurikulum 2013 masih menemukan kendala besar yang perlu segera ditangani yaitu kesiapan guru. Beberapa intervensi seperti pelatihan khusus dan Klinik Konsultasi Pembelajaran sudah diluncurkan Pemerintah untuk mengembangkan kompetensi guru. Namun, hal itu belum cukup jika tidak dilakukan pengawasan dan perbaikan terus menerus. Bukan berarti mereka yang telah lulus pelatihan dapat langsung menerapkan kurikulum 2013. Pemerintah harus melakukan evaluasi secara teratur untuk meningkatkan kualitas guru.
Widodo. 2012. Pengembangan Kurikulum Sekolah Unggulan. Jurnal Pendidikan Penabur - No.19/Tahun ke-11/Desember 2012.
Pengembangan kurikulum yang menawarkan hasil dengan menambah lebih banyak mata pelajaran, mewajibkan siswa memiliki buku pegangan, dan prosedur penilaian tes diberlakukan kepada seluruh mata pelajaran akan menambah beban berat siswa. Usia siswa kelas I dan II SD tergolong anak usia dini yang yang memerlukan banyak bermain dan selalu menginginkan pujian atau penilaian yang baik, menjadi tidak terpenuhi bila beban belajar yang menjadi semakin berat jauh berbeda dengan ketika masih di TK, ditambah dengan prosedur penilaian tes yang meningkatkan stres sehingga kemungkinan memberikan hasil yang tidak memuaskan.
Pengembangan kurikulum yang diusulkan penulis lebih menekankan pada proses baru hasil. Meskipun kelihatannya sangat luas, yaitu sebanyak 15 mata pelajaran, akan tetapi dengan penyajian pembelajaran yang ringan, penuh keceriaan, dan penilaian banyak menggunakan prosedur non tes (hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika yang menggunakan prosedur tes atau ulangan), menjadikan siswa dapat belajar dengan sukacita. Beban alat tulis yang dibawa ke sekolah juga ringan, karena siswa hanya membawa 3 buku pegangan siswa. Beban orang tua juga ringan, karena tidak harus membeli banyak buku pegangan siswa. Kesukacitaan siswa di dalam belajar memberikan keleluasaan bagi pembiasaan pembentukan moral dan mental yang memanusiakan manusia sesamanya guna meningkatkan kualitas kehidupan. Penguasaan membaca, menulis, dan berhitung dengan pembiasaan karakter berdasarkan Nilai-Nilai Kristiani (Calt-C = calistung plus karakter) pada awal-awal pendidikan dasar merupakan modal yang kuat bagi siswa untuk meningkatkan keinginan mempelajari pengetahuan yang lebih luas.
Soedijarto .2004. Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional. Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004.
Prof. Soedijarto seorang guru besar Universitas Negeri Jakarta ini dalam penelitiannya mengemukakan banyaknya permasalahan yang ada dalam pendidikan di Indoensia, salah satunya serringnya pergantian kurikulum yang berada di negeri ini. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional, tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah; (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan ; (3) pendekata n proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi; (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik ; dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan, efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan kebudayaan nasional.
Megyeri, K.A. (2006). Infusing Service-Learning into the Language Arts Curriculum. [Online]. Tersedia: http://ici.umn.edu/products/impact/163/163.pdf. [16 November 2006]
Penulis artikel ini adalah guru sekolah menengah yang sebelumnya menga-jar bahasa Inggris dengan beranjak dari buku-buku sastra klasik. Selanjutnya, ia beralih menggunakan pendekatan tematik yang dipadukan dengan prinsip-prinsip service learning, yang dipayungi oleh tema seperti: komunikasi, kebebas-an, hubungan, perubahan, dsb. Selama lima tahun ia melakukan kajian atas pembelajaran yang dilakukan, yang terdiri dari 10 sesi kegiatan belajar bahasa.
Pertama, siswa bekerja sama dengan orang tuanya menulis, mendiskusikan, dan mempublikasikan puisi atau esai yang mengungkapkan perasaan yang pertama kali muncul ketika memasuki dunia dewasa. Kedua, orang tua siswa diminta membuat surat kepada anaknya yang berisi nasihat dan hal-hal yang mengesankan dari kehidupan bersama anaknya. Ketiga, untuk mengajarkan surat bisnis, siswa diminta menulis kepada selebritis yang dipilihnya serta meminta benda kenangan darinya. Keempat, untuk mengajarkan surat kepada sahabat, siswa menulis dan mengirim surat kepada seniornya untuk meminta nasihat tentang keberhasilan mereka belajar. Kelima, dalam kaitannya dengan laporan buku tradisional, siswa diminta membaca dan menulis tentang suatu buku yang mempengaruhi hidupnya. Keenam, siswa diminta menghayati dan menuliskan kehidupan orang lain. Ketujuh, siswa internasional diminta menerjemahkan booklet informasi rumah sakit ke dalam bahasa asal mereka. Kedelapan, siswa mewawancarai dan menulis biografi anggota keluarganya yang lebih tua. Kesembilan, siswa menulis cerita personal, memberikan gambar dan ilustrasi, serta membuplikasikannya di perpustakaan sekolah. Terakhir, siswa menulis sebuah karya penelitian yang bertolak dari permasalahan sosial, seperti kehamilan, kelaparan, pelanggaran, kemiskinan, dan lingkungan, serta mengirimkannya kepada instansi, perusahaan, atau tokoh yang relevan.
Kegiatan belajar itu melibatkan orang lain yang ternyata dapat memberikan dukungan belajar kepada siswa. Dukungan itu tak hanya terkait dengan spirit dan kemampuan berbahasa anak, tetapi juga penghayatan anak tentang kehidupan nyata. Dari amatan terhadap para siswa itu, penulis menemukan bahwa pengalaman belajar yang mereka peroleh membuatnya sangat terbantu dalam pengembangan akademik dan karier mereka selanjutnya.
Jo Tondeur, Johan van Braak and Martin Valcke.2007. Curricula and the use of ICT in education: Two worlds apart?. British Journal of Educational Technology Vol 38 No 6 2007.
Dalam Penelitian ini, tiga peneliti yaitu Jo Tondeur, Johan van Braak and Martin Valcke, meneliti bagaimana pentingnya ICT (information and communication technology) Teknologi Informasi dan komunikasi dalam kurikulum pendidikan. Di berberapa negara sudah terlihat bahwa ICT sangat berpengaruh besar terhadap kurikulum dalam pendidikan. Di salahsatu negara yaitu Flanders, Dinas pendidikan setempat telah meneliti dan menidentifikasi bagaimana pengaruh ICT dalam pendidikan, dan dihubungkan dengan bagaimana hasil lulusannya, dengan pengetahuan yang dimiliki, kemapuan serta keperibadian siswa juga. Dan dalam mengidentifikasi hal itu pemerintah setempat melakukan survey dengan mengambil sampel sebanyak 570 responden yang diambil dari 53 Sekolah SMA setempat. Hasil survey menunjukan bahwasanya guru-guru yang ada sisana kebanyakan hanya fokus dalam teknik pengembangan kempuan ICT, padahal harusnya pusat kurikulum ICT adalah menggabungkan antara pengguaan ICT dalam pembelajaran dan teknik proses yang digunakan. Dan hal ini menunjukan ada perbedaan antara tujuan dan implementasi kurikulum ICT dalam pendidikan. Dan dalam penelitian ini, 3 peneliti ini menutup dengan memberikan suatu solosi kebijakan yang harusnya dilakukan oleh sekolah dalam pengembangan kuriukulm dengan penggunaan ICT dalam pendidikan.
Jatmoko, Dwi .2013. Kompetensi Keahlian Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Terhadap Kebutuhan Dunia Industri di Kabupaten Sleman. Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 1, Februari 2013.
Salah satu masalah pendidikan kejuruan sekarang adalah bagaimana meningkatkan kesempatan kerja untuk orang-orang muda, yang mempunyai pendidikan menengah kejuruan. Banyaknya siswa yang tidak dapat langsung bekerja atau menganggur dimung-kinkan disebabkan dari kurang sesuainya kompetensi siswa SMK dengan kebutuhan industri. Hal lain disebabkan banyak dalam pembuatan kurikulum yang dibuat pada tahun sebelumnya dipakai secara terus menerus tanpa konsolidasi dengan DU/DI, dan tanpa mengalami perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kemajuan industri. Maka dari itu peneliti ingin meneliti tantang salah satu keahlian sekolah kejuruan dalam bidang teknik kendaraan ringan, apakah keahliaan ini sudah memenuhi sentandar dunia kerja atu belum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi yang dikembangkan di SMK Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan dan relevansinya dengan kebutuhan industri servis mobil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistik analisis deskriptif. Hasil penelitian (1) relevansi kurikulum SMK Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan dengan kebutuhan industri servis mobil di Kabupaten Sleman untuk bidang engine sebesar 100%, chasis 100%, dan kelistrikan 91,67%; (2) kompetensi yang dibutuhkan industri servis mobil yang tidak disediakan dalam kurikulum untuk bidang engine sebesar 15%, chasis 4%, dan kelistrikan 0%; (3) kompetensi yang tidak dibutuhkan industri servis mobil namun dilaksanakan dalam kurikulum untuk bidang engine dan chasis 0%, dan kelistrikan 0,08%; (4) kompetensi yang dibutuhkan industri servis mobil dan ada dalam kurikulum tapi tidak dilaksanakan di SMK untuk bidang engine sebesar 22,88%, chasis 14,60%, dan kelistrikan 12,02%. Kesimpulan secara umum adalah bahwa kurikulum dalam kategori relevan, namun ada beberapa kompetensi yang tidak terlaksana.
Beane, J.A. (1997). Curriculum Integrated: Designing the Core of Democratic Education. New York: Teachers College, Columbia University.
Setidaknya ada tiga hal yang mendorong Beane untuk menulis buku ini. Pertama, ketika menulis buku A Middle School Curriculum: From Rhetoric to Reality pada tahun 1990, Beane menggunakan teori Kurikulum Integrasi (disingkat: KI) yang sebenarnya bagi dia sendiri konsep KI itu belum terlalu jelas. Kedua, banyaknya misinterpretasi tentang konsep KI di kalangan para pendidik. Ketiga, keinginan Beane untuk memperluas teori KI dengan menggunakan berbagai gagasan yang telah dipelajarinya selama lebih dari 30 tahun. Beranjak dari motif tersebut, penulis berharap bahwa keberadaan buku ini akan dapat meluruskan kesalahtafsiran dan kedangkalan konsep KI serta menerapkan dengan benar konsep tersebut dalam pembelajaran.
Konsep KI yang dilontarkan Beane memiliki ciri pada penekanan perenca-naan pembelajaran partisipatoris, pengetahuan kontekstual, isu-isu nyata kehi-dupan, dan pengorganisasian pembelajaran secara utuh. Penekanan itu menjadikan KI memberikan akses yang luas dan pengetahuan yang beragam bagi siswa, serta sekaligus membuka cara untuk membuat mereka memperoleh lebih banyak dan lebih sukses dalam belajar.
Dalam memaparkan gagasannya tentang KI, Beane membagi tulisannya ke dalam tujuah bab. Bab I dan II memfokuskan bahasannya pada ide-ide dan sejarah perkembangan konsep KI. Pada Bab III Beane mengungkap perdebatan yang terjadi berkenaan dengan KI. Sementara itu, pada Bab IV dan V, bertolak dari pengalamannya, Beane menyajikan gambaran penerapan KI di kelas dan implikasinya terhadap sistem sekolah. Selanjutnya, pada Bab VI dijelaskan posisi KI dalam perspektif pendidikan umum dan kurikulum nasional. Mengakhiri tulisannya, Beane mengulas pengalaman dan hasil risetnya mengenai kekhawatiran berbagai kalangan dalam menerapkan KI dan cara mengatasinya.
Semoga Bermanfaat :)
Post a Comment for "[KULIAH] ANOTASI JURNAL KURIKULUM Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan terbaru 2016"
= > Silahkan berkomentar sesuai artikel diatas
Post a Comment= > Berkomentar dengan url ( mati / hidup ) tidak akan di publish